Biarkanlah Aku

Biarkanlah aku menjadi lampu yang mencoba menerangi padamnya malam
Atau rembulan yang mencoba menerangi hamparan bumi dalam kegelapan
Atau mentari yang menyidari setiap sudut ruang dalam bumi
Jangan kau tanyakan, karena itulah kefitrahan kehidupan

Jangan pernah kusebut dalam dirimu, karena ku mencoba untuk terlepas

Makhluk-makhluk Tuhan terkendali oleh Dzat Pencipta
Aku pun, dan kau pun.
Sama-sama atas kendali-Nya, tidak satu sama lain sesama

Biarkanlah ombak menghantam perahu pelaut

Dengannya ada dua kemungkinan, selamat atau semakin penakluk.
Atau sebagai pohon gaharu, biarkanlah abi membakar agar tercium aromanya.

Ramadhan menjelang sepuluh akhir bulan

Tertanam dalam kamar, hamparan kata-kata dalam laptop
Deringan ponsel penekan bathin, jiwa dan pikiran

Aku ingin bebas, tidak bebaskan diri dari segalanya

Seperti hakekat hidup, maka masalah adalah ruhnya.
Aku hanya ingin bebas, bebas menentukan pilihanku
Mengabdi pada ilahi dalam caraku, tidak pada caramu.

Waktu terus berjalan, penumpang merasa terdiam di perahu tengah lautan

Tak sadar terombang, waktu terus bergulir tak henti
Semoga dan harapan, bersatu melawan kegentaran jiwa dan raga.

Kedunglo-Kediri, 06 Juli 2015

Iklan

2 thoughts on “Biarkanlah Aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s